Selamat Datang di Blogs SDN Kebonwaru

Senin, 16 Mei 2011

Selayang Pandang




Dengan Berjalanya waktu...inya Allah SDN Kebonwaru akan ada Perubahan Kepemimpina ( Kepala Sekolah)  per Satu Juni 2011 karena kepala Sekolah saat ini sudah berakhir masa bakti....semoga amal bakti dan dedikasinya.mendapat pahala yang setimpal dari Allah SWT....

Minggu, 12 Desember 2010

Pembelajaran



  • Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik.Kegiatan pembelajaran ini akan bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Peserta didik yang berada pada sekolah dasar memiliki aspek perkembangan kecerdasan,emosi, sosial , bahasa, motorik, dan lain – lainnya tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Dalam mengajar guru perlu memilih buku panduan yang tepat sesuai dengan karakteristik anak dan efisien mendukung pembelajaran tematik. Oleh karena itu dalam pembelajaran guru harus kreatif dalam menyiapkan kegiatan / pengalaman belajar pada anak, salah satunya dalam memilih strategi pembelajaran yang akan digunakan dalam proses KBM.

    Berbicara tentang pendidikan, maka akan berbicara tentang dua aspek penting, yaitu praktek pendidikan dan teori pendidikan. Praktek pendidikan dapat diartikan sebagai seperangkat kegiatan bersama yang bertujuan membantu pihak lain agar mengalami perubahan tingkah laku yang diharapkan (Sadulloh,2003:1-2). Praktek pendidikan dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek tujuan, aspek proses kegiatan dan aspek dorongan atau motivasi. Adapun teori pendidikan dapat diartikan seperangkat konsep yang sudah tersusun secara sistematis dan teruji secara empirik yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam praktek pendidikan.


    Dalam paradigma baru tentang pendidikan, baik dalam konteks teori maupun praktek, istilah pembelajaran lebih banyak dikembangkan. Menurut Djahiri (2007:1) pembelajaran itu sendiri dapat dimaknai secara prosedural maupun programatik. Secara programatik pembelajaran dimaknai sebagai seperangkat komponen rancangan pelajaran yang memuat hasil pilihan dan ramuan profesional perancang/guru untuk dibelajarkan kepada peserta didiknya. Adapun secara prosedural, pembelajaran adalah proses interaksi/interadiasi antara kegiatan belajar siswa dengan kegiatan mengajar guru serta dengan lingkungan belajarnya (learning environment).


    Pendidikan di SD tidak hanya mengajarkan kepada anak untuk meghafal dan menguasai materi yang disampaikan, akan tetapi lebih tepatnya sebagai wadah pembentukan karakter anak sebagai warga Negara yang diharapkan di masa mendatang. Untuk itu dalam menyampaikan materi guru harus menguasai pengelolaan kelas dan kreatif memilih model - model pembelajaran guna mendukung kelancaran pembelajaran di kelas. Pelaksanaan pendidikan di SD harus memperhatikan kebutuhan anak yang berusia 6 -12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7 -11 tahun menurut Piaget (1963) barada dalam perkembangan kemampuan intektual konkrit operasional.Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh dan menganggap tahun yang akan dating sabagai waktu yang masih jauh. Mereka hanya memahami keadaan sekarang ( konkrit) dan bukanlah masa depan yang masih abstrak.


    Agar tujuan pendidikan dapat tercapai sesuai maka diperlukan strategi yang memadukan setiap komponen pembelajaran secara integrated dan koheren. Penentuan model pembelajaran yang tepat menjadi pekerjaan utama para aktor pembelajaran agar kegiatan belajar mengajar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

    Atas dasar inilah, penulis memberi judul makalah ini”Model – Model Pengembangan Pembelajaran” yang mana dalam makalah ini penulis akan mendeskprisikan tentang konsep beberapa model pembelajaran beserta penerapannya dalam pembelajaran yang dinilai cukup efektif untuk diterapkan.




  • prof

    Guru sebagai tenaga profesional


    Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum.
    Nama & E-mail (Penulis): fima rosyidah
    Saya Mahasiswi di Yogyakarta
    Tanggal: 25 mei 2004
    Judul Artikel: Guru sebagai tenaga profesional
    Topik: kualitas guru

    GURU SEBAGAI TENAGA PROFESIONAL
    Berbicara tentang cita-cita anak-anak di masa sekarang tentu sudah akan berbeda dengan 20 bahkan 10 tahun yang lalu, dimana lebih banyak anak yang bercita-cita menjadi dokter, pengacara, maupun pilot. Kemudian dimana anak-anak memposisikan guru? Bukankah setiap hari mereka selalu berhadapan dengan guru mereka dan berinteraksi dengan mereka?

    Berbicara mengenai guru, tentu yang akan terlintas dalam benak kita adalah gaji yang sedikit serta kualitas mereka. Jika kita sering memperhatikan berita-berita yang ada di surat kabar, cerita tentang nasib guru bukanlah cerita yang menyenangkan, akan tetapi cerita yang suram dan menyedihkan. Misalnya nasib guru kontrak yang ada di wilayah-wilayah pelosok Indonesia. Hal ini tentu dapat dijadikan refleksi bagi institusi penghasil guru serta pemerintah.

    Ketika kondisi pendidikan di Indonesia semakin memprihatinkan, dimana biaya pendidikan semakin mahal, masyarakat menuntut kualitas pengajaran yang baik. Sebagaimana dikemukakan oleh Freire (2002), pendidikan harus melibatkan tiga unsur sekaligus dalam hubungan dialektisnya yang ajeg, yaitu pengajar, pelajar atau anak didik, serta realitas dunia, maka kita tidak dapat menyalahkan guru semata yang mungkin dinilai tidak qualified untuk mengajar, melainkan kita juga perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang lain yang mendukung kondisi pendidikan kita.

    Peningkatan kualitas para guru memang masih dipertanyakan sampai sekarang ini. Fenomena yang ada di masyarakat menunjukkan bahwa banyak para sarjana di bidang non kependidikan mengambil alternatif program tambahan Akta IV atau program kependidikan guna mendapat sertifikat supaya dapat menjadi guru. Pada umumnya mereka mengambil alternatif Akta IV sebagai alternatif terakhir mengingat pekerjaan yang lain sangat sulit diperoleh. Bagaimana dengan kualitas mereka, benarkah mereka mampu menjadi guru sebagai tenaga profesional?

    Terkadang manusia melihat suatu jenis pekerjaan berdasarkan prestigenya. Seperti menjadi dokter tentu masyakarat akan lebih menghargainya dibandingkan guru. Selain gaji yang berbeda, proses pembelajaran yang dijalani oleh calon dokter juga berbeda dengan calon guru. Sehingga sudah merupakan hal yang lumrah dimana gaji yang mereka peroleh di masa bekerjanya cukup besar yaitu seimbang dengan biaya yang dikeluarkan selama proses belajar untuk menjadi dokter.

    Alangkah bahagianya para guru itu jika mendapatkan reward yang hampir sama dengan dokter. Mereka tidak harus terus mengemban label "pahlawan tanpa tanda jasa" bukan? Sebaiknya institusi penghasil guru perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1) Memperbaiki kurikulum perkuliahan dengan menekankan pada kompetensi guru yang berkualitas; 2) Memasukkan program pembekalan lapangan dalam proses belajar-mengajar selama jangka waktu 1 tahun di sekolah-sekolah yang membutuhkan tenaga pengajar sebagai wahana pembentukan tenaga guru yang profesional.

    Kemudian dari pemerintah diharapkan dapat melaksanakan program penempatan guru di wilayah-wilayah pelosok Indonesia yang masih banyak mnembutuhkan guru dengan memberikan gaji yang sesuai, oleh karena itu anggaran pendidikan perlu ditingkatkan. Peningkatan anggaran ini tidak hanya untuk mensejahterakan guru sebagai tenaga pengajar, melainkan juga untuk mengembangkan program-program untuk meningkatkan mutu pendidikan. Semua usaha ini jika dapat dilaksanakan secara sinergis maka sedikit demi sedikit akan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia yang selama ini masih merupakan suatu impian masyarakat Indonesia pada umumnya.

     
    Free Host | lasik surgery new york